Loading...
Nama Astuti begitu populer di tanah suci, khususnya di kalangan para petugas haji. Berkat jasanya, ratusan atau bahkan ribuan nyawa jamaah haji Indonesia berhasil diselamatkan saat melakoni prosesi melempar jumrah di Mina, dalam beberapa tahun terakhir.
Penasaran dengan nama Astuti, Media Center Haji pun mencoba mencari tahu makhluk apa gerangan. Belakangan, terungkap bahwa Astuti bukanlah nama perempuan cantik nan perkasa, melainkan singkatan Astrea Tujuh Tiga.
Lama melanglang buana mengarungi jalanan di tengah gurun dan membelah lautan manusia, kini keberadaan Astuti semakin terancam. Selain karena usia uzur dan disita otoritas setempat, juga akibat ulah tangan-tangan jahil.
"Dulu jumlahnya banyak, sekitar 20 sampai 25-an unit, tapi karena hilang atau dicuri tinggal segini," ujar salah seorang driver PPIH Arab Saudi, Nurhaji F Mukri.
"Astuti sudah dipakai sejak pertama kali saya menjadi petugas haji pada 2004 sampai sekarang," imbuhnya. Seperti dikutip news.okezone.
Kini, Astuti hanya tersisa delapan unit. Dia digeletakkan begitu saja di gudang kantor urusan haji Indonesia Daker Makkah di kawasan Syisyah. "Empat lagi rencananya akan didatangkan dari (Kantor Urusan Haji Indonesia) di Jeddah," Muskijan, personel bagian perbaikan kendaraan Kemenag, menimpali.
Astuti sejatinya adalah motor butut Supercub 90. Namun, sebutan Astuti (Astrea Tujuh Tiga) sudah terlanjur melekat padanya.
Jelang Operasi Armina saat Puncak Haji pada medio September mendatang, Astuti pun dikeluarkan dari gudang. Badannya dilap bersih dari debu tebal dan komponen-komponennya dicek ulang.
Melihat tongkrongannya rasa pesimistis pasti mendera. Namun, dari rekan jejaknya motor-motor butut ini terbukti telah berjasa membantu menyelamatkan ribuan jamaah haji yang tersesat maupun membutuhkan pertolongan medis di tengah jutaan umat manusia yang melempar jumrah di Mina.
"Dalam setahun motor-motor ini hanya dipakai selama tiga atau empat hari saja, selebihnya diparkir di gudang. Kondisi mesinnya masih bagus," ujar Thohari, salah seorang mekanik PPIH Arab Saudi di sela menyervis motor di halaman kantor urusan haji Daker Makkah.
Bersama Muskijan, Thohari tampak serius mengecek satu per satu bagian motor yang sudah uzur ini untuk memastikan tidak rewel saat dipakai. Mulai dari kampas rem, rantai, karburator, busi aki, dan oil, semua diperbaiki tanpa terkecuali. "Spare part-nya didatangkan khusus dari Jeddah, kalau di sini susah nyarinya," cetusnya sembari mengelap keringat di dahi.
Saking lamanya tidak dipakai, kunci motor-motor ini pun hilang dan harus diganti dengan yang baru. Maklum kuda besi ini hanya dipakai saat musim haji dan penggunanya banyak orang.
"Motor-motor ini sangat penting untuk membantu mencari orang hilang atau tersesat di Mina, kalau jalan kaki tidak terbayang lama dan capeknya," ucap personel perlindungan jamaah dari unsur TNI, Abu Dzarin.
Dalam operasi Armina, unsur perlindungan jamaah dari TNI-Polri akan berkolaborasi dengan tim gerak cepat Kementerian Kesehatan dan petugas lainnya.
Bahu membahu mereka akan melayani 155.200 jamaah haji Indonesia selama menjalani prosesi puncak haji. Di sini, Astuti akan mereka pakai untuk membelah kepadatan jutaan manusia guna mengevakuasi para jamaah yang membutuhkan pertolongan ke posko terdekat.
Mina merupakan salah satu titik krusial dalam prosesi puncak ibadah haji lantaran jutaan manusia berkumpul dalam waktu bersamaan untuk melempar jumrah pada 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Tahun lalu 124 jamaah haji Indonesia dan lima mukimin meninggal dunia dalam tragedi Mina. Jumlah ini belum termasuk jamaah lain yang bertumbangan di luar insiden di jalur 204 Mina.
Kembali ke Astuti, Muskijan lantas bercerita bahwa motor-motor tua ini nanti akan diangkut menggunakan ambulans ke Mina. Saat ditanya kenapa? Dia mengatakan sejatinya Pemerintah Arab Saudi melarang kendaraan apapun yang tidak dilengkapi tanda khusus masuk wilayah Arafah, Muzdalifah dan Mina selama masa puncak haji. Namun, karena menjadi kebutuhan mendesak bagi jamaah haji, Astuti pun "diselundupkan"
Para mukimin yang sudah kenal wilayah serta memiliki koneksi ke aparat setempat akan diberi mandat untuk membawa Astuti ke Mina. Setelah berhasil masuk, Astuti akan ditaruh di dalam tenda-tenda dan baru dikeluarkan saat dibutuhkan.
"Bensin nanti kita juga bawa, kita biasanya kirim 20 jeriken yang 20 literan itu, semoga semuanya lancar," harapnya.
Dari cerita Thohari, tidak hanya Indonesia saja yang melakukan hal ini untuk melindungi jamaah hajinya. India dan Pakistan juga melakukan praktik serupa. "Kalau motor sepertinya hanya Indonesia. Kalau tidak salah India dan Pakistan malah pakai bajaj," pungkasnya. [*]
Loading...



